18 Oktober 1992, MUSIBAH kerap tiba tak terduga. Begitu pula nasib pesawat CN-235 Merpati Airlines (MNA), yang terbang dari Semarang ke Bandung, Ahad kemarin.
Pada pukul 13.42 WIB, 34 menit setelah pesawat bermesin ganda yang diberi nama
Trangadi itu bertolak dari Semarang, Kapten Pilot Fierda Pangabean sempat
mengabarkan ia dalam keadaan visual metrological condition.
Itu berarti pandangan Kapten Fierda, 30 tahun, masih normal. Sama sekali tak
ada petunjuk bahwa lulusan Juanda Flying School Surabaya dengan jam terbang
6.000 jam lebih itu akan melakukan pendaratan darurat.
Tapi, siapa nyana, ternyata itu kontak terakhir Trangadi dengan petugas
menara di Bandara Husein Sastranegara.
Berjam-jam kemudian pesawat itu
bagaikan lenyap di sekitar pegunungan Priangan. Seharusnya, burung baja itu
mendarat di Bandung pada pukul 13.56 WIB. Tak syak lagi, tim SAR dan segenap
petugas di Bandara Husein pun segera melacak. Sampai akhirnya Senin esoknya,
pukul 09.25 WIB, reruntuhan Trangadi ditemukan di sebuah hutan di punggung
Gunung Papandayan, Garut. Tepatnya di wilayah Kampung Pasir Hui, Desa
Cipaganti, Kecamatan Cisurupan, Garut Selatan. Sebanyak 27 penumpang -- tiga
anak-anak dan seorang bayi -- meninggal dunia. Demikian pula nasib Kapten
Pilot Fierda, Kopilot Adnan S. Paguh, serta dua pramugari, Rita dan Ketty.
Dugaan sementara, seperti dikatakan Direktur Teknik MNA, Rafdi Samin, yang
mendampingi Azwar Anas, Trangadi dibelit cuaca buruk. Pesawat ke-13 dari 15
pesawat buatan IPTN itu, yang dibeli MNA pada November 1991, kemudian terempas
karena angin kencang. Hal ini berdasarkan petunjuk dari kontak antara Kapten
Pilot Fierda dan Bandara Husein, pada pukul 13.35 WIB pada hari nahas itu.
Waktu itu, kira-kira di atas Cirebon, Fierda mengabarkan bahwa pesawat
terbang menyimpang ke arah selatan dari rute resminya. Belakangan,
penyimpangan ini diketahui sampai 46 mil dari rute biasanya. Empasan angin
mengakibatkan pesawat terbang melayang agak turun. Kecepatannya sampai 268
knot, melebihi kecepatan biasanya 215 knot.
Pada ketinggian terbang sekitar 2.000 meter, Trangadi semakin meluncur ke
arah celah dan jurang di Gunung Papandayan. Begitu mendekati badan gunung itu,
"mung kin pilot berusaha menaikkan kembali pesawat itu, tapi nggak bisa,"
tutur Rafdi Samin. Akibatnya, Trangadi menumbuk punggung gunung berketinggian
2.622 meter itu.
Memang, apa persisnya yang dialami Trangadi masih harus diteliti. Sebab, dari
segi pesawat maupun pilotnya, penerbangan Trangadi dijamin bagus.
Kapten Pilot
Fierda, misalnya, yang menerbangkan CN-235 sejak 1988, sudah cukup teruji.
Sedangkan Trangadi sendiri, dari hasil pemeriksaan terakhir di Surabaya,
Agustus lalu, dinyatakan dalam kondisi prima.
Menurut Kepala Humas IPTN Soleh Affandi, pihaknya bersama MNA dan Departemen
Perhubungan kini sedang melakukan penyelidikan awal. Upaya itu tentu saja
bergantung pada bisa tidaknya ditemukan kotak hitam pesawat tersebut.
Yang jelas, bagi CN-235 -- yang pekan-pekan lalu dibeli oleh Uni Emirat Arab
sebanyak 7 buah -- kecelakaan itu terhitung pertama kalinya. Adapun untuk MNA
sendiri, musibah itu terhitung kejadian terhebat kedua kalinya dalam lima
tahun ini. Pada akhir 1987, Twin Otter MNA terempas di Bukit Melawan, Bontang,
Kalimantan Timur. Semua penumpang (14 orang) dan tiga awaknya tewas.
Sumber : http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1992/10/24/NAS/mbm.19921024.NAS8386.id.html
