Posted by : Asep Muharam
Kamis, 10 Mei 2012
Sukhoi Superjet-100 (sukhoi.org)
Keputusan maskapai penerbangan
nasional menambah armada pesawat tipe menengah dengan jumlah sheet 100
kursi tak lepas dari pertumbuhan bisnis yang semakin meningkat. Bahkan
sejumlah produsen pesawat kini mulai banyak yang menyasar pasar
penerbangan Indonesia.
Seperti diketahui, pesawat Sukhoi Superjet-100 merupakan pesawat jet
dengan kapasitas penumpang 98 kursi termasuk pilot. Pesawat yang tengah
ditawarkan Rusia ini mengalami kecelakaan di kawasan Gunung Salak,
Bogor. "Persaingan jet 100 ini tinggi sekali dan itu baru berlangsung tiga tahun terakhir," kata Komisaris Utama PT Merpati Nusantara Airlines (MNA), Said Didu, kepada VIVAnews di Jakarta, Kamis 10 Mei 2012.
Said mengungkapkan, setidaknya tercatat tiga produsen pesawat yang sudah mulai masuk ke pasar Indonesia. Dari China, terdapat nama produsen pesawat Xi'an Aircraft International Coorporation (XIAC). Publik Indonesia mengenal produk pesawat dari pabrikan Negeri Panda ini berupa MA-60 yang dipesan Merpati.
Dari benua Amerika, muncul nama Embraer S.A singkatan dari Empresa Brasileira de Aeronáutica, S.A. Di seluruh dunia, Embraer, yang merupakan produsen pesawat terbesar keempat dunia, telah menjual sedikitnya 8 pesawat eksekutif dengan harga berkisar US$9,5 juta hingga US$54 juta.
Di sektor komersial, Embraer mengambil posisi pasar yang unik, yakni memfokuskan diri pada pesawat jet ukuran menengah dengan jumlah kursi mulai dari 34 sampai 120 seat. Empat tipe jet komersial yang diproduksi di middle-size jet, yaitu E 170 LR, 175 LR, 190 AR dan 195 AR, berkapasitas 120 seat.
Masih dari benua yang sama, Indonesia juga mulai menjadi sasaran pangsa pasar dari produsen pesawat asal Kanda, Bombardier Aerospace. Perusahaan ini bahkan telah menandatangani kerjasama pengadaan 18 armada pesawat jenis CRJ 1000 NextGen. Rencananya, 5 unit pesawat akan didatangkan mulai Oktober hingga Desember 2012.
Bombardier Commercial Aircraft --unit bisnis dari Bombardier Inc-- adalah produsen pesawat berkapasitas hingga 145 penumpang, dengan tingkat efektivitas operasional tertinggi di kelasnya.
Lebih Efisien
Said mengatakan, manisnya bisnis pesawat terbang jet kelas menengah ini tak terlepas dari kebutuhan maskapai penerbangan nasional terhadap armada yang memiliki tingkat efisiensi lebih banyak. Selain itu, pesawat jet tipe menengah ini juga bisa menjelajahi wilayah-wilayah pelosok yang tak bisa dimasuki pesawat jet berbadan lebar.
"Pesawat tipe 100 sheet ini memang mengambil jarak terbang 1 jam, tapi lebih efisien karena bisa berkali-kali bolak-balik," kata Said. "Load factor untuk pesawat berbadan lebar biasanya kecil sekali."
Jika menilik dari sejarahnya, ungkap Said, perkembangan pesawat di dunia memang mengalami loncatan terlalu tinggi. Awalnya, produsen pesawat mengembangkan pesawat baling-baling dengan penumpang 80 orang. Selanjutnya, teknologi pengembangan pesawat membuat loncatan besar dengan membangun pesawat jet dengan kapasitas penumpang di atas 140-150 sheet.
Sumber : http://bisnis.vivanews.com/news/read/312671-mengapa-sukhoi-incar-pasar-pesawat-jet-ri
