FIERDA Basaria boru Panggabean pernah menerima hadiah sebentuk cincin emas
dari penumpangnya. Waktu itu, 1 September lalu, keluarga Pudji Slamet Widodo,
Kepala Seksi PPN Kantor Pajak Metro, Lampung Tengah, menumpang pesawat Mer
pati dari Halim Perdana Kusuma ke Bandara Branti Lampung. Pesawat jenis CN 235
dengan pilot Fierda Panggabean itu take off pukul 07.15 pagi.
Belum lama terbang, pilot Fierda mendadak menemui penumpangnya.
Menurut cerita
Wahyuni Wardhani, istri Pudji, Fierda berkata dengan tenang, "Kita kembali ke
Halim sebentar, ya. Ada kerusakan sekrup sedikit. Turun yuk." Ternyata, satu mesin
CN 235 itu mati. Dan Fierda berhasil mendaratkan burung baja yang ngadat itu
dengan selamat di Halim. Setelah perbaikan selama 30 menit, Fierda dan seluruh
penumpang terbang lagi.
"Fierda memang begitu tenang. Bahkan di atas Gunung Krakatau dia sempat
berkisah tentang gunung berapi itu," kata Wahyuni, yang membawa tiga anaknya
dalam penerbangan tadi, kepada Kolam Pandia dari TEMPO pekan lalu. Maka ketika
mendarat muncul pikiran untuk memberikan cincin emas yang dipakainya untuk
Fierda. Namun Fierda harus cepat-cepat terbang kembali ke Jakarta. Dan
Wahyuni menitipkan cincin itu kepada seorang petugas Bandara Branti.
Beberapa hari berselang, Fierda menulis surat kepada Wahyuni. "Dia berterima
kasih dan menyampaikan bahwa keselamatan penumpang adalah tanggung jawabnya.
Dia juga mengabarkan bahwa ibunya baru saja meninggal dunia," katanya.
Pudji telah beberapa kali terbang bersama Fierda. "Dia sangat teliti. Bahkan
mengecek pintu belakang saja dia lakukan sendiri sebelum berangkat," kata
Pudji. Maka, lanjutnya, "Saya nggak tahan membaca berita kecelakaan itu,
apalagi jika analisanya menyalahkan Fierda."
Di kalangan Kantor Pajak Lampung, yang sering mondar-mandir ke Jakarta,
Fierda dikenal hangat dan akrab dengan penumpang. "Kami sering makan siang
bersama kalau dia kebetulan di Bandarlampung," kata Yusri Nasution, 45 tahun,
Kepala Seksi PPN Kantor Pajak Telukbetung. Ia mengenal Fierda sejak masih co
pilot di Merpati dan sudah sekitar sepuluh kali terbang bersamanya.
Sekali waktu, cerita Yusri, sebelum mendarat di Branti, satu baling-baling
pesawat jenis CN 235 itu berhenti berputar. Satu mesin mati. "Kami
diberitahukan bahwa akan diadakan pendaratan "yang agak darurat". Tapi Fierda
menyampaikannya dengan tenang dan cukup membuat penumpang tak panik,"
katanya. Akhirnya 30 penumpangnya mendarat aman di Branti.
Urusan mesin mati ini memang kerap dikemukakan Fierda kepada ayahnya, Wilson
Panggabean, bekas direktur PT President Taxi. Menurut Wilson, pada 15 Oktober
lalu, tiga hari menjelang jatuh di Gunung Puntang, Fierda bercerita tentang
pendaratan dengan satu mesin di Bali. "Saya landing dengan satu mesin lagi,
Pi. Untung cuaca baik," kata Wilson menirukan putrinya.
Fierda, kelahiran Jakarta tahun 1962, adalah anak sulung dari enam bersaudara.
Setamat SMA Bulungan di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, dia mengikuti pendidikan
penerbangan Juanda Flying School di Surabaya -- tamat pada 1984 dengan ijazah
commercial flying school dengan predikat terbaik. Mulai bekerja di Merpati
pada 1984. Jabatannya co pilot dan baru Juni lalu ia diangkat menjadi pilot.
Dengan enam ribu jam terbang, Fierda bergaji sekitar Rp 3 juta.
Tak banyak yang tahu soal perkawinan Fierda dengan Maurice Kirwan, 40 tahun,
warga San Fransisco, AS, yang asli Water ford, Irlandia Selatan. "Kami
menikah di catatan sipil San Fransisco Mei lalu," kata Kirwan pekan lalu.
Semula pemilik perusahaan kontraktor ini mau mengajak sang istri untuk pelesir
ke Yogya dan Bali sebelum dikawinkan secara adat Batak Desember nanti. Dengan
mata yang masih sembab, Kirwan berkata pelan, "Dia seorang pahlawan." Kini
Fierda istirahat damai di permakaman Tanah Kusir.
Sumber : http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1992/10/31/NAS/mbm.19921031.NAS7489.id.html
