
Pesawat komersial Superjet Sukhoi -100 hilang di kawasan Gunung Salak,
Bogor, Jawa Barat, Rabu 9 Mei 2012. Ini adalah bukan kali pertama dari
musibah jatuhnya pesawat di daerah tersebut. Sejarah telah mencatat
bahwa Gunung Salak telah beberapakali menelan pesawat mentah-mentah! Ih!
Tragedi ini semakin mencuatkan keangkeran kawasan tersebut. Sebenarnya
misteri apa sik yang menyelimuti Gunung Salak?
Gunung Salak, Bogor, yang memiliki ketinggian 2.211 meter memang dikenal
sangat angker. Hampir setiap tahun gunung yang membatasi wilayah Bogor
dan Sukabumi itu menelan korban. Ketinggiannya memang kalah menjulang
dengan tetangganya, Gunung Gede. Namun itu tak menjadi soal, sebab
reputasi keangkerannya telah melebihi semuanya.
Gunung Salak merupakan gunung berapi yang mempunyai dua puncak, yakni
Puncak Salak I dan II. Letak astronomis puncak gunung ini ialah pada
6°43' LS dan 106°44' BT. Tinggi puncak Salak I, 2.211 meter dan Salak
II, 2.180 meter dpl. Ada satu puncak lagi bernama Puncak Sumbul dengan
ketinggian 1.926 meter dpl.
Musibah tidak berhenti sampai disini, banyak juga para pendaki gunung
yang raib entah kemana? Pastinya setiap tahun mustahil jika tak ada
korban di kawasan ini. Wow angker sekali daerah ini.
"Gunung Salak Tempat Suci Petilasan Para Raja"
Budayawan dan Sejarawan Bogor, Eman Sulaeman membeberkan, orang zaman
dahulu lebih mengenal Gunung Salak dengan sebutan Gunung Buled (bulat,
red) karena bentuk puncaknya menyerupai lingkaran. Konon, penamaan Salak
berasal dari penemuan buah salak besar. “Itu kan hanya mitos, jadi
belum bisa dibuktikan kebenarannya hingga kini,” ujarnya, kemarin.
Ia mengatakan, Gunung Salak pernah meletus dua kali. Yang pertama pada
tahun 1669 dan kedua tahun 1824. Letusan pertama sempat meratakan desa
atau wilayah yang berada di bawahnya. Menurut dia, di kaki Gunung Salak
pernah berdiri kerajaan Hindu pertama di Jawa Barat dengan nama
Salakanagara pada abad ke-4 dan 5 Masehi.
“Kemungkinan besar, penamaan Salak berasal dari kerajaan ini karena
dilihat dari konsonan vokal terdapat kemiripan,” ujar pria yang sempat
bermain sinetron itu.
Eman mengungkapkan, Salakanagara dipimpin oleh seorang raja dengan gelar
Raja Dewawarman I-VIII. Tidak jelas nama asal usul dan nama asli para
raja yang menguasai semenanjung Sunda tersebut, namun terungkap jika
mereka berasal dari India Selatan. Konon, Raja Dewawarman memiliki
banyak keturunan. Di antaranya pernah menjadi raja besar di Tanah Jawa
seperti Purnawarman yang memerintah Tarumanagara dan Mulawarman raja
dari Kutai Kartanagara.
Terkait misteri yang terkandung pada Gunung Salak, Eman mengaku tidak
ada hal aneh di sana meski didominasi wilayah hutan. “Saya belum
menemukannya. Mungkin itu merupakan cerita mitos yang disebarkan dari
mulut ke mulut,” singkatnya.
Hanya saja, di sana terdapat banyak sekali tempat petilasan atau tempat
bersemedi para raja dan pengikutnya. Petilasan suci itu tersebar di
berbagai titik. Seperti petilasan milik raja Pajajaran, Prabu Sri Baduga
Maharaja atau Prabu Siliwangi di kaki Gunung Salak di daerah Bogor
dengan total mencapai lebih dari 91 lokasi. “Mungkin bisa ratusan
jumlahnya karena pertapa dalam agama Hindu menyucikan Gunung Salak,”
ucapnya. Di sana juga terdapat makam kuno yang berusia ratusan tahun
dengan jumlah mencapai lebih dari 40 makam. Makam itu milik pemuka agama
Hindu yang wafat dan dikuburkan di Gunung Salak. Sehingga, banyak yang
menganggap jika ingin memasuki wilayah Gunung Salak, harus menjaga
perilaku dan sopan santun.
Misteri lain yang menyelimuti Gunung Salak adalah pernah terdengar
cerita ada goa yang di dalamnya berisi belasan patung emas dalam
berbagai ukuran. Tapi, hingga kini belum pernah ada bukti empiris yang
ditemukan peneliti.
"Gunung Salak Tempat Penimbunan Harta Karun"
Gunun Salak oleh banyak 'kaum spritualis' disebut-sebut banyak menyimpan
harta karun peninggalan Belanda. Harta itu berupa emas murni yang
dimasukan di dalam peti. Dan peti-peti itu kemudian dikubur di empat
titik terpisah di area Gunung Salak. Harta tersebut sengaja di kubur
VOC, karena takut diambil tentara Jepang yang masuk ke Indonesia 1942.
“Mereka (VOC) takut emas-emas yang mereka kumpulkan direbut Jepang yang
waktu itu berusaha mengusir Belanda dari Indonesia,” ujar tokoh
masyarakat Cidahu, Sukabumi.
Setelah sukses menguburnya, mereka kemudian membuat peta penunjuk arah
yang disertai tanda-tanda fisik lokasi. Waktu itu VOC berharap ketika
mereka datang lagi ke Indonesia harta yang disimpan bisa diambil
kembali. Tapi kenyataanya setelah Jepang keluar, Indonesia kemudian
merdeka tahun 1945. Akhirnya serdadu Belanda dan VOC tidak bisa masuk
lagi ke Indonesia. Tentu saja harta-harta yang dikubur itu tidak bisa
diambil kembali.
Kabar tentang adanya harta timbunan itu di Gunung Salak sempat beredar
tahun 1953. Waktu itu, sejumlah warga Cidahu mendengar kalau harta karun
itu di kubur di wilayah kaki Gunung Salak tersebut. Info yang mereka
terima tanda fisik tempat penyimpanan harta itu adalah tembok yang
tebalnya 120 centimeter persegi.
Ada lagi yang mengatakan kalau disekitar Kawah Ratu ada juga harta yang
ditimbun. Alhasil, karena kabar tersebut, hampir seluruh warga Cidahu
beramai-ramai mencarinya. Setiap ada tembok sisa peninggalan Belanda
mereka hancurkan. Dalam beberapa bulan, tembok sisa pembatas perkebunan
milik Belanda dengan penduduk pribumi saat itu, langsung ludes menjadi
puing.
Sementara warga yang coba mencari harta itu di sekitar Kawah Ratu banyak
yang tewas karena menghadapi medan yang berat di Gunung Salak.
Arwah-arwah inilah yang kabarnya bergentayangan di sekitar Kawah Ratu.
"Cucu Soekarno Ikut Menyibak Harta Karun di Gunung Salak"
Kini kabar harta itu kemudian muncul kembali pertengahan 2006 lalu.
Bajari saat sedang menunggu warung miliknya, didatangi tiga pria. Mereka
mengaku berasal dari Jakarta. Bahkan salah satu diantaranya mengaku
salah seorang cucu soekarno dari Guntur, anak sulung Soekarno.
Tiga pria itu menanyakan tentang beberapa tanda fisik, yang katanya
tempat penyimpanan harta karun yang sempat menghebohkan warga Cidahu
1953 lalu. Tanda-tanda fisik yang tertera di peta adalah berupa aliran
sungai, pohon bambu, pohon damar dan sebuah tembok berukuran 120
centimeter persegi. Namun oleh Bajari dikatakan tanda-tanda yang tertera
di peta sudah tidak ada lagi. Ukuran wilayah yang tertera di peta
tersebut juga sudah banyak yang bergeser sehingga sulit untuk
melacaknya. Menurut pengakuannya Bajari di sekitar Gunung Salak memang
banyak harta yang ditanam oleh para pengusaha asal Belanda yang kabur
sebelum pendudukan Jepang ke Indonesia. Alhasil kisah emas VOC membuat
Gunung Salak semakin misterius.
Sumber : http://forum.vivanews.com/sejarah-dan-budaya/357310-misteri-gunung-salak.html
