Lorenzo Kenang Hasil Impresif di Estoril

Rabu, 02 Mei 2012
Posted by Asep Muharam

Pembalap Yamaha Jorge Lorenzo (REUTERS/Marcelo Del Pozo)
 
Jorge Lorenzo antusias menyambut seri 3 MotoGP musim 2012 di Portugal, akhir pekan nanti. Pembalap andalan Yamaha itu lantas mengenang sederet hasil impresif yang selalu ia torehkan di Sirkuit Estoril.

Dalam 5 musim terakhir, Lorenzo tidak pernah absen di podium GP Portugal. Juara dunia MotoGP 2010 itu tercatat tiga kali menjadi yang tercepat, serta masing-masing sekali naik podium 2 dan 3.

Sah saja jika Lorenzo tak sabar menggeber YZR-M1 tunggangannya di Estoril, Minggu 6 Mei 2012. Berbekal pengalaman tersebut, pembalap yang tengah memuncaki klasemen itu berharap hasil yang terbaik.

“Sekarang saatnya kami menuju Estoril, trek dimana saya selalu meraih hasil sangat bagus. Saya beberapa kali juara dan sangat menikmati balapan di sana,” ujar Lorenzo seperti dikutip situs resmi Yamaha, Rabu 2 Mei 2012.

Pada seri 2 akhir pekan lalu di kampung halamannya, Spanyol, Lorenzo finish di posisi 2 di belakang jagoan Repsol Honda sekaligus juara bertahan, Casey Stoner. Menghadapi GP Portugal, Lorenzo memastikan pemilihan ban yang tepat menjadi kunci kesuksesannya.

“Saya rasa, kami bisa sangat tangguh di Estoril. Seperti di Jerez kemarin, pemilihan ban akan sangat penting. Saat ini, kami memimpin klasemen, tapi kompetisi masih panjang dan sangat sengit. Jadi, kami harus mengerahkan seluruh kemampuan,” tuturnya.

Meski hanya finish urutan ke-2 di Jerez, Lorenzo belum tergeser dari puncak klasemen pembalap dengan raihan 45 poin. Sebab, di seri perdana di Qatar, pembalap 24 tahun itu menjadi yang tercepat.

Sumber  :  http://sport.vivanews.com


Iwan Fals yang bernama lengkap Virgiawan Listanto (lahir 3 September 1961 di Jakarta) adalah seorang penyanyi beraliran balada yang menjadi salah satu legenda hidup di Indonesia.
Lewat lagu-lagunya, ia ‘memotret’ suasana sosial kehidupan Indonesia (terutama Jakarta) di akhir tahun 1970-an hingga sekarang. Kritik atas perilaku sekelompok orang (seperti Wakil Rakyat, Tante Lisa), empati bagi kelompok marginal (misalnya Siang Seberang Istana, Lonteku), atau bencana besar yang melanda Indonesia (atau kadang-kadang di luar Indonesia, seperti Ethiopia) mendominasi tema lagu-lagu yang dibawakannya. Iwan Fals tidak hanya menyanyikan lagu ciptaannya tetapi juga sejumlah pencipta lain.
Iwan yang juga sempat aktif di kegiatan olahraga, pernah meraih gelar Juara II Karate Tingkat Nasional, Juara IV Karate Tingkat Nasional 1989, sempat masuk pelatnas dan melatih karate di kampusnya, STP (Sekolah Tinggi Publisistik). Iwan juga sempat menjadi kolumnis di beberapa tabloid olah raga.
Kharisma seorang Iwan Fals sangat besar. Dia sangat dipuja oleh kaum ‘akar rumput’. Kesederhanaannya menjadi panutan para penggemarnya yang tersebar diseluruh nusantara. Para penggemar fanatik Iwan Fals bahkan mendirikan sebuah yayasan pada tanggal 16 Agustus 1999 yang disebut Yayasan Orang Indonesia atau biasa dikenal dengan seruan Oi. Yayasan ini mewadahi aktivitas para penggemar Iwan Fals. Hingga
Masa kecil Iwan Fals dihabiskan di Bandung, kemudian ikut saudaranya di Jeddah, Arab Saudi selama 8 bulan. Bakat musiknya makin terasah ketika ia berusia 13 tahun, di mana Iwan banyak menghabiskan waktunya dengan mengamen di Bandung. Bermain gitar dilakukannya sejak masih muda bahkan ia mengamen untuk melatih kemampuannya bergitar dan mencipta lagu. Ketika di SMP, Iwan menjadi gitaris dalama paduan suara sekolah.
Selanjutnya, datang ajakan untuk mengadu nasib di Jakarta dari seorang produser. Ia lalu menjual sepeda motornya untuk biaya membuat master. Iwan rekaman album pertama bersama rekan-rekannya, Toto Gunarto, Helmi, Bambang Bule yang tergabung dalam Amburadul, namun album tersebut gagal di pasaran dan Iwan kembali menjalani profesi sebagai pengamen. Album ini sekarang menjadi buruan para kolektor serta fans fanatik Iwan Fals.
Setelah dapat juara di festival musik country, Iwan ikut festival lagu humor. Arwah Setiawan (almarhum), lagu-lagu humor milik Iwan sempat direkam bersama Pepeng, Krisna, Nana Krip dan diproduksi oleh ABC Records, tapi juga gagal dan hanya dikonsumsi oleh kalangan tertentu saja. Sampai akhirnya, perjalanan Iwan bekerja sama dengan Musica Studio. Sebelum ke Musica, Iwan sudah rekaman sekitar 4-5 album. Di Musica, barulah lagu-lagu Iwan digarap lebih serius. Album Sarjana Muda, misalnya, musiknya ditangani oleh Willy Soemantri.
Iwan tetap menjalani profesinya sebagai pengamen. Ia mengamen dengan mendatangi rumah ke rumah, kadang di Pasar Kaget atau Blok M. Album Sarjana Muda ternyata banyak diminati dan Iwan mulai mendapatkan berbagai tawaran untuk bernyanyi. Ia kemudian sempat masuk televisi setelah tahun 1987. Saat acara Manasuka Siaran Niaga disiarkan di TVRI, lagu Oemar Bakri sempat ditayangkan di TVRI. Ketika anak kedua Iwan, Cikal lahir tahun 1985, kegiatan mengamen langsung dihentikan.
Selama Orde Baru, banyak jadwal acara konser Iwan yang dilarang dan dibatalkan oleh aparat pemerintah, karena lirik-lirik lagunya dianggap dapat memancing kerusuhan. Pada awal karirnya, Iwan Fals banyak membuat lagu yang bertema kritikan pada pemerintah. Beberapa lagu itu bahkan bisa dikategorikan terlalu keras pada masanya, sehingga perusahaan rekaman yang memayungi Iwan Fals enggan atau lebih tepatnya tidak berani memasukkan lagu-lagu tersebut dalam album untuk dijual bebas. Belakangan Iwan Fals juga mengakui kalau pada saat itu dia sendiri juga tidak tertarik untuk memasukkan lagu-lagu ini ke dalam album.[rujukan?]
Rekaman lagu-lagu yang tidak dipasarkan tersebut kemudian sempat diputar di sebuah stasiun radio yang sekarang sudah tidak mengudara lagi. Iwan Fals juga pernah menyanyikan lagu-lagu tersebut dalam beberapa konser musik, yang mengakibatkan dia berulang kali harus berurusan dengan pihak keamanan dengan alasan lirik lagu yang dinyanyikan dapat mengganggu stabilitas negara.[rujukan?] Beberapa konser musiknya pada tahun 80-an juga sempat disabotase dengan cara memadamkan aliran listrik dan pernah juga dibubarkan secara paksa hanya karena Iwan Fals membawakan lirik lagu yang menyindir penguasa saat itu.
Pada bulan April tahun 1984 Iwan Fals harus berurusan dengan aparat keamanan dan sempat ditahan dan diinterogasi selama 2 minggu gara-gara menyanyikan lirik lagu Demokrasi Nasi dan Pola Sederhana juga Mbak Tini pada sebuah konser di Pekanbaru. Sejak kejadian itu, Iwan Fals dan keluarganya sering mendapatkan teror.[rujukan?] Hanya segelintir fans fanatik Iwan Fals yang masih menyimpan rekaman lagu-lagu ini, dan sekarang menjadi koleksi yang sangat berharga.
Saat bergabung dengan kelompok SWAMI dan merilis album bertajuk SWAMI pada 1989, nama Iwan semakin meroket dengan mencetak hits Bento dan Bongkar yang sangat fenomenal. Perjalanan karir Iwan Fals terus menanjak ketika dia bergabung dengan Kantata Takwa pada 1990 yang didukung penuh oleh pengusaha Setiawan Djodi. Konser-konser Kantata Takwa saat itu sampai sekarang dianggap sebagai konser musik yang terbesar dan termegah sepanjang sejarah musik Indonesia.[rujukan?]
Setelah kontrak dengan SWAMI yang menghasilkan dua album (SWAMI dan SWAMI II) berakhir, dan disela Kantata (yang menghasilkan Kantata Takwa dan Kantata Samsara), Iwan Fals masih meluncurkan album-album solo maupun bersama kelompok seperti album Dalbo yang dikerjakan bersama sebagian mantan personil SWAMI.
Sejak meluncurnya album Suara Hati pada 2002, Iwan Fals telah memiliki kelompok musisi pengiring yang tetap dan selalu menyertai dalam setiap pengerjaan album maupun konser. Menariknya, dalam seluruh alat musik yang digunakan baik oleh Iwan fals maupun bandnya pada setiap penampilan di depan publik tidak pernah terlihat merek maupun logo. Seluruh identitas tersebut selalu ditutupi atau dihilangkan. Pada panggung yang menjadi dunianya, Iwan Fals tidak pernah mengizinkan ada logo atau tulisan sponsor terpampang untuk menjaga idealismenya yang tidak mau dianggap menjadi wakil dari produk tertentu.[rujukan?]
Keluarga
Iwan lahir dari Lies (ibu) dan mempunyai ayah tiri Haryoso (almarhum). Iwan menikahi Rosanna (Mbak Yos) dan mempunyai anak Galang Rambu Anarki (almarhum), Annisa Cikal Rambu Basae, dan Rayya Rambu Robbani.
Galang mengikuti jejak ayahnya terjun di bidang musik. Walaupun demikian, musik yang ia bawakan berbeda dengan yang telah menjadi trade mark ayahnya. Galang kemudian menjadi gitaris kelompok Bunga dan sempat merilis satu album perdana menjelang kematiannya.
Nama Galang juga dijadikan salah satu lagu Iwan, berjudul Galang Rambu Anarki pada album Opini, yang bercerita tentang kegelisahan orang tua menghadapi kenaikan harga-harga barang sebagai imbas dari kenaikan harga BBM pada awal tahun 1981 yaitu pada hari kelahiran Galang (1 Januari 1981).
Nama Cikal sebagai putri kedua juga diabadikan sebagai judul album dan judul lagu Iwan Fals yang terbit tahun 1991. Sebelumnya Cikal juga pernah dibuatkan lagu dengan judul Anissa pada tahun 1986. Rencananya lagu ini dimasukkan dalam album Aku Sayang Kamu, namun dibatalkan. Lirik lagu ini cukup kritis sehingga perusahaan rekaman batal menyertakannya. Pada cover album Aku Sayang Kamu terutama cetakan awal, pada bagian penata musik masih tertulis kata Anissa.
Galang Rambu Anarki meninggal pada bulan April 1997 secara mendadak yang membuat aktivitas bermusik Iwan Fals sempat vakum selama beberapa tahun. Galang dimakamkan di pekarangan rumah Iwan Fals di desa Leuwinanggung, Cimanggis, Depok Jawa Barat. Sepeninggal Galang, Iwan sering menyibukkan diri dengan melukis dan berlatih bela diri.(
Pada tahun 2002 Iwan mulai aktif lagi membuat album setelah sekian lama menyendiri dengan munculnya album Suara Hati yang di dalamnya terdapat lagu Hadapi Saja yang bercerita tentang kematian Galang Rambu Anarki. Pada lagu ini istri Iwan Fals (Yos) juga ikut menyumbangkan suaranya.
Sejak meninggalnya Galang Rambu Anarki, warna dan gaya bermusik Iwan Fals terasa berbeda. Dia tidak segarang dan seliar dahulu. Lirik-lirik lagunya terkesan lebih dewasa dan puitis.[rujukan?] Iwan Fals juga lebih banyak membawakan lagu-lagu bertema cinta baik karangannya sendiri maupun dari orang lain.
Pada tanggal 22 Januari 2003, Iwan Fals dianugrahi seorang anak lelaki yang diberi nama Rayya Rambu Robbani. Kelahiran putra ketiganya ini seakan menjadi pengganti almarhum Galang Rambu Anarki dan banyak memberi inspirasi dalam dunia musik seorang Iwan Fals.[rujukan?]
Di luar musik dan lirik, penampilan Iwan Fals juga berubah total. Saat putra pertamanya meninggal dunia Iwan Fals mencukur habis rambut panjangnya hingga gundul. Sekarang dia berpenampilan lebih bersahaja, rambut berpotongan rapi disisir juga kumis dan jenggot yang dihilangkan. Dari sisi pakaian, dia lebih sering menggunakan kemeja yang dimasukkan pada setiap kesempatan tampil di depan publik, sangat jauh berbeda dengan penampilannya dahulu yang lebih sering memakai kaus oblong bahkan bertelanjang dada dengan rambut panjang tidak teratur dan kumis tebal.
Peranan istrinya juga menjadi penting sejak putra pertamanya tiada. Rossana menjadi manajer pribadi Iwan Fals yang mengatur segala jadwal kegiatan dan kontrak. Dengan adanya Iwan Fals Manajemen (IFM), Fals lebih profesional dalam berkarir.
SEJARAH LOGO Oi dan PROFIL PEMBUATNYA
Logo dan bendera Oi telah menjadi magis. Tak hanya dalam konser Iwan Fals, bahkan bendera Oi seringkali berkibar-kibar dengan perkasa di saat konser penyanyi lain. Logo Oi sudah menjadi identitas bagi mereka yang mencintai karya-karya Iwan Fals, juga bagi mereka yang menjadikan kesenian sebagai salah satu sarana untuk memaknai kehidupan, untuk menemukan makna kehidupan.
Logo Oi memiliki format standar. Dalam beberapa kesempatan sering ditemui logo Oi yang tidak standar. Format standar logo Oi dapat diklik pada gambar logo Oi untuk memperbesar.
Lantas bagaimana sejarah logo Oi hingga tercipta? Siapa sebenarnya pembuatnya? Berikut paparannya.
SEJARAH LOGO Oi
Lomba Desain Logo Oi yang diselenggarakan oleh Yayasan Orang Indonesia (YOI) diikuti ratusan peserta Silaturahmi Nasional Oi 1999 di Desa Leuwinanggung No 19, Cimanggis, Depok, Jawa Barat (Kediaman Iwan Fals) pada hari Minggu (15/8/1999) dan Senin (16/8/1999). Setiap peserta maksimal membawa 2 buah karya logo Oi.
Dalam Lomba Desain Logo Oi terpilih 2 Logo Oi karya HiO Ariyanto dari Oi Bento House Solo sebagai Juara I dan II. Penentuan pemenang Lomba Logo Oi sebagai Juara I dan II ditentukan oleh para peserta Peserta Silaturahmi Nasional Oi 1999 melalui polling dan pemilihan oleh semua peserta Silaturahmi Nasional Oi 1999.
Logo Oi karya HiO Ariyanto yang mendapat Juara I, mulai 16 Agustus 1999 (bertepatan dengan Hari Jadi Oi) dipergunakan sebagai logo resmi Organisasi Penggemar Iwan Fals atau biasa disebut Oi. Selain itu, dalam Silaturahmi Nasional Oi 1999 Lagu “Oi” karya Digo Dzulkifli dari Oi Bandung terpilih sebagai Pemenang Lomba Cipta Lagu Mars Oi. Dan ditetapkan sebagai Lagu Mars Oi.
PROFIL SINGKAT PENCIPTA LOGO Oi
  • Nama : Is Ariyanto
  • Panggilan : HiO Ariyanto
  • Pekerjaan : Staff Redaksi Harian Umum SOLOPOS
  • Alamat : Kartotiyasan RT 04/4, Jalan Manduro III, Gang: Merdeka, Kratonan, Serengan, Solo 57153
  • Email : oibentohouse@yahoo.com: oibentohouse@gmail.com
Sampai saat ini aktif sebagai: Ketua Oi Bento House, Manager Oi Bento House Band, Ketua Solo Kartunis (Sloki)
PERJALANAN SANG PENCIPTA LOGO Oi :
  • 1997, Karya Kartun Terbaik Lomba Kartun MDS Beteng Solo
  • 1999, Juara I & II Desain Logo Oi
  • 1999, Pelopor berjualan kaos & merchandiser Iwan Fals & Oi
  • 2000, Juara I Lomba Karikatur Jambore Nasional Oi di Cibubur
  • 2003, Rekor Republik Aeng-Aeng: untuk Kategori Pelopor Kartun 3 Dimensi di Solo
  • 2003, Juara Favorit “Sensasi Biru Indonesia” (Launching Rokok Bentoel Biru) di Solo Bersama Tim Oi Bento House
  • 2004, Rekor Republik Aeng-Aeng: Konser Musik Parade Band Oi dari jam 10.00 Pagi-10.00 Malam (14 band membawa lagu-lagu Iwan Fals yang berbeda sebanyak 75 lagu)
  • 2004, Juara I & II Desain Logo Ikatan Karyawan sebuah toko retail terbesar di Solo
  • 2005, Kartun karakter “Si Thole” dipakai sebagai maskot Lomba Balita & Anak Balita SOLOPOS.

Sumber  :  http://setitikkehidupan.wordpress.com/2011/04/22/sejarah-tentang-iwan-fals-dan-logo-oi/

Ironi Sepak Bola Papua

Posted by Asep Muharam
KOMPAS/AGUS SUSANTO
Atlet sepak bola PPLP berlatih di Stadion Mandala, Jayapura, Papua, Kamis (26/4).

Papua gudangnya pemain sepak bola. Sejak era 1970-an sampai kini pun kerap berganti ketenaran aksi pemain Papua yang mewarnai panggung sepak bola nasional. Tatkala aksi anak Papua menggelitik hati penggila bola Tanah Air, datanglah pujian dan sambutan tanpa batas. Namun, siapa sangka di balik kecemerlangan pemain Papua, pembinaan dasar atlet muda di Papua berjalan seadanya.

Mereka bisa tampil mengesankan bukan dari proses pembinaan yang mapan. Semua ini semata lebih karena semangat dan kemampuan bakat alam yang mereka miliki.

Potret kelam pembinaan atlet muda sepak bola Papua setidaknya terekam dari kondisi Pusat Pendidikan dan Latihan Olahraga Pelajar (PPLP) Papua di Jayapura. Bertahun-tahun pembinaan atlet berlangsung dengan fasilitas seadanya. Program latihan digelar dengan lapangan sepak bola sewaan yang belum memenuhi standar lapangan internasional. Kondisi lapangan bergelombang karena kubangan. Rumput lapangan tumbuh tak merata dan batas bidang lapangan yang tak jelas karena tanpa batas lapangan.

Kondisi ini tentu sangat ironis karena keberadaan PPLP dalam sistem pembinaan prestasi berperan sangat strategis dan mendasar sebagai wadah bagi pembibitan dan pembinaan atlet berbakat. Hal ini mengingat jumlah anak usia sekolah yang besar dan menjadi usia potensial dalam pembinaan prestasi olahraga.

Lewat PPLP, atlet tidak cuma dibina dalam urusan prestasi olahraganya, tetapi juga pendidikannya. Dengan kombinasi pembinaan bakat dan pendidikan, diharapkan terbentuk akhlak dan moral, seperti kejujuran, tanggung jawab, kerja keras, disiplin, kritis serta kreatif pada atlet.

Sudah terbukti, dari PPLP ini, dari generasi ke generasi lahir pemain berbakat yang ikut membela tim nasional. Sebut saja Adolof Kabo, Yonas Sawor, dan Metu Duaramuri. Mereka atlet bertalenta yang merupakan generasi PPLP Papua pertama yang didirikan pada 1985.

Setelah generasi ini, muncul nama-nama pemain lainnya, seperti Ishak Fatari, Chris Yarangga, Ritam Madubun, dan Aples Tecuari. Pada generasi sekarang, muncul Titus Bonai dan Okto Maniani yang memukau bersama timnas U-23. Yang paling fenomenal tentu sosok Boaz Solossa, pemain 25 tahun yang kini menjadi tulang punggung klub Persipura.

Bukan cuma soal kondisi lapangan yang memprihatinkan, atlet PPLP sepak bola Papua juga dipaksa mengalah untuk asrama penginapan. Gedung yang seharusnya menjadi asrama untuk atlet PPLP justru dipakai untuk kepentingan di luar kegiatan pembinaan olahraga. Bangunan yang semestinya bisa menampung 22 atlet kini dihuni Majelis Rakyat Papua.

Terpisahnya asrama atlet dengan tempat latihan makin membebani atlet PPLP. Setiap selesai latihan pada pagi hari, mereka sudah harus bergegas berangkat ke sekolah yang berlokasi jauh terpisah. Demikian pula saat selesai sekolah, mereka harus kembali ke asrama sebelum menuju lapangan.

Secara konsep, kondisi ini sudah tidak ideal. Karena yang namanya pemusatan latihan, semestinya semuanya sudah terintegritas dalam satu kawasan antara tempat latihan, sekolah, dan asrama. Terlebih lagi, jika pendidikan para atlet disamakan dengan sekolah umum.

”Idealnya, asrama, tempat latihan, dan sekolah dalam satu kawasan. Selain memudahkan proses pendidikan dan latihan, juga untuk pengawasan. Untungnya, para atlet kami bersemangat tinggi. Meski dalam keterbatasan, mereka tetap menjalani pendidikan dan berlatih dengan semangat,” kata Ketua Bidang Olahraga Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Papua Noach Baransano.

Program latihan

Minimnya alat-alat latihan juga membuat tim pelatih menerapkan program latihan yang sederhana. Penekanan latihan lebih kepada fisik dan pematangan teknik dasar. Tak terlihat struktur pola latihan yang berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi. Jangankan alat-alat angkat beban, seragam latihan pun mereka tak punya.

”Untungnya mereka punya bakat alami yang luar biasa. Mereka juga punya semangat dan keinginan kuat untuk maju. Mereka selalu termotivasi dengan keberhasilan senior mereka yang bermain di klub peserta Liga Indonesia ataupun timnas,” kata salah satu pelatih PPLP Papua, Yan Rontini.

Semangat dan antusiasme anak-anak Papua yang masih berusia belasan tahun itu terlihat dalam sesi latihan di lapangan bola SMA YPKK Taruna Dharma, Jumat (27/4). Mereka mengikuti semua instruksi pelatih yang menempa kekuatan fisik mereka.

”Ayo, dua pohon tiga kelinci,” kata sang pelatih. Para pemain yang sedang berlatih mengumpan bola segera berlari berhamburan mencari teman untuk membuat formasi yang diinginkan pelatih. Mereka membuat grup yang terdiri dari dua pemain yang berdiri sebagai pohon, sedangkan tiga pemain lainnya jongkok.

Bagi pemain yang tidak bergerak cepat, tentu tidak akan mendapat teman untuk membuat formasi yang diinginkan pelatih. Sanksinya mereka harus push up sebanyak 10 kali. ”Latihan ini memang terlihat sederhana. Namun, sebenarnya latihan ini untuk mengasah kecepatan respons mereka, keberanian mengambil keputusan, dan bertanggung jawab jika mereka gagal dalam permainan ini,” kata Yan.

Latihan-latihan seperti ini, kata Yan, harus dilakukan untuk menyiasati keterbatasan sarana dan prasarana latihan. ”Kami, tim pelatih, harus kreatif. Kami tidak bisa membiarkan semangat dan antusiasme pemain dalam latihan,” ujarnya menambahkan.

Kerja keras mereka akhirnya terbayar. Sejumlah pemain dipanggil untuk membela tim PON Papua. Bahkan, sejumlah pemain juga direkrut memperkuat timnas PSSI U-16 yang berlaga di Piala AFF beberapa waktu lalu.

Martinus Asso mengaku sangat beruntung bisa bergabung di PPLP. Pemain kelahiran 9 Juni 1996 ini merasa mengalami banyak kemajuan sejak bergabung di PPLP dua tahun lalu. Postur tubuh siswa kelas III SMP ini tidak terlalu tinggi, tetapi kemampuan olah bola dan kecepatan larinya cukup mengagumkan. Tak heran jika Martinus masuk timnas U-16.

Melihat potensi dan sumber daya atlet Papua yang sangat besar di usia sekolah, sepertinya memberi harapan besar. Seandainya bakat alami mereka bisa dibina dengan lebih baik dengan dukungan sarana dan prasarana serta iptek, tak mustahil prestasi sepak bola nasional bisa lebih melambung.

Sumber  :  http://bola.kompas.com/read/2012/05/02/17575727/Ironi.Sepak.Bola.Papua
Daylife
Pelatih Manchester United Sir Alex Ferguson (kiri) dan pelatih Manchester City Roberto Mancini terlibat adu mulut di sela-sela pertandingan derbi Manchester, Selasa (1/5/2012) dini hari WIB.

Pelatih Manchester United, Sir Alex Ferguson, menuding Pelatih Manchester City, Robeto Mancini, telah mengintimidasi ofisial pertandingan saat kedua kubu bertemu di derbi Manchester yang digelar di Etihad Stadium, Senin atau Selasa (1/5/2012).

Ferguson dan Mancini memang sempat adu mulut setelah Danny Welbeck dilanggar Nigel De Jong pada menit ke-76. "Dia (Mancini) mengintimidasi ofisial pertandingan, yakni ofisial keempat dan hakim garis," aku Ferguson kepada Sky Sports.

"Dia mengeluh tentang wasit pada beberapa pekan lalu. Dia tidak bisa mengeluh malam ini. Itu sudah pasti," sambungnya.

Mancini tak terhasut dengan pernyataan Fergie. "Saya tidak ingat. Saya berkata kepada ofisial keempat bahwa pelanggaran itu untuk kami. Bukan untuk mereka," ungkap Mancini.

Derbi Manchester dimenangkan City berkat gol tunggal yang diciptakan Vincent Kompany pada injury time babak pertama. Kemenangan ini membuat "The Citizens" naik ke puncak klasemen, menggeser "Setan Merah". Kini, kedua tim sama-sama mengoleksi 83 poin dengan dua laga tersisa.

Sumber  :  http://bola.kompas.com/read/2012/05/01/05321470/Ini.yang.Membuat.Fergie-Mancini.Adu.Mulut
Getty Images/Alex Livesey
Dua fans berdiri di depan toko yang menjual cendera mata, seperti kaus, syal, dan pernak-pernik klub sepak bola, di kota Liverpool, Inggris, Januari lalu. 
 
Sepak bola bukan cuma olahraga. Permainan yang melibatkan 22 pemain di lapangan hijau ini sudah menjadi sebuah industri yang mencetak keuntungan jutaan, bahkan miliaran dollar AS.

Berbagai lini, sepak bola menghasilkan bisnis menggiurkan. Mulai dari bisnis hak siar tayangan televisi, iklan yang memanfaatkan ikon pemain, sampai pada penjualan barang souvenir, dan penjualan replika seragam pemain. Untuk bisnis yang terakhir, ada data menarik.

Perusahaan manufaktur dan penjualan produk Liga Inggris, Sporting iD, mengeluarkan data penjualan seragam pemain dalam peringkat lima besar. Dari data itu diketahui bahwa pemain Manchester United, Wayne Rooney, menempati posisi teratas. Seragam Rooney paling banyak diminati, tidak hanya di Inggris, tetapi juga dalam penjualan global ke seluruh kawasan dunia. Sayangnya, data yang dikeluarkan Sporting iD ini tidak menyebutkan angka penjualan dan keuntungannya.

Penjualan replika seragam Rooney ini mengungguli penjualan seragam pemain Liverpool, Steven Gerrard, dan striker Chelsea, Fernando Torres. Adapun mantan pemain Manchester United, Cristiano Ronaldo, yang sekarang bermain di Real Madrid, berada di urutan keempat paling populer, dan pemain Chelsea, Frank Lampard, di tempat kelima.

Direktur Penjualan dan Pemasaran Sporting iD, Rob Thayne, mengatakan, permintaan terhadap replika kaus Rooney menunjukkan "tidak berkurang". "Dia sungguh beruntung masuk liga pada 2007 ketika Ruud van Nistelrooy meninggalkan kaus bernomor punggung 10 di Manchester United," katanya.

"Kaus itu merupakan salah satu kebanggaan Wayne, Denis Law, dan nomor 10 tentu merupakan nomor keramat bagi Pele dan Maradona. Rooney tampil dengan kaus bernomor punggung 10 dan populer. Jadi, bukan kejutan jika banyak yang meminta kaus yang bertuliskan namanya," tambahnya.

Besarnya minat penggemar sepak bola terhadap dengan seragam pemain, termasuk di Indonesia, tidak lepas dari strategi publikasi klub. Manchester United termasuk salah satu klub Eropa yang paling agresif membuka pasar di beberapa kawasan, termasuk Asia dan Indonesia.

Kegiatan tur tim MU di sela-sela liburan musim kompetisi menjadi kegiatan positif untuk mengeruk lebih banyak keuntungan. Ini cara yang efektif untuk promosi dan lebih menjalin kedekatan dengan para penggemarnya. Maka dari itu, tak heran jika akhirnya sejumlah klub Liga Spanyol, seperti Real Madrid dan Barcelona, mulai melirik pasar Asia.

Bukan cuma kegiatan tur tim, mereka juga ingin melibatkan ikatan emosional pendukungnya lebih dalam dengan mendirikan sekolah sepak bola. Ekspansi sudah dilakukan, dan dalam beberapa tahun ke depan, mereka tinggal mengeruk keuntungan.

Sumber  :  http://bola.kompas.com/read/2012/05/01/00443223/Rooney.Lebih.Laris.dari.Gerrard.atau.Torres


Supermoon di Jakarta. Gambar diambil pada 2011. (VIVAnews/Nurcholis Anhari Lubis)
Pakar astrologi Richard Nolle memberi julukan bulan raksasa sebagai "Supermoon". Momen ini terjadi ketika bulan purnama dalam kondisi 90 persen.
Posisi bulan saat itu lebih dekat dengan bumi. Peristiwa ini akan terjadi Sabtu, 5 Mei ini.

Beberapa spekulasi menyebutkan efek bulan raksasa ini pada bumi. Supermoon yang terjadi pada 10 Januari 2005 diduga menyebabkan gempa berujung tsunami di Aceh pada 26 Desember 2004. Gempa tersebut terjadi 14 hari sebelum perigee bumi dan bulan terjadi. 

Supermoon juga terjadi ketika Jepang mengalami gempa 8.9 SR pada 19 Maret 2011. Delapan hari sebelumnya, puncak kedekatan bumi dengan bulan (perigee) terjadi. Apakah akan terjadi gempa dahsyat lagi bertepatan dengan kehadiran supermoon kali ini?

Pakar astronomi dan dosen David Reneke menyatakan ada penyebab yang meningkatkan ketakutan manusia dibanding kiamat yang akan datang.

"Jika Anda mencoba, Anda dapat merunut secara kronologis hubungan bencana alam apa saja terhadap apa yang terjadi di langit malam, komet, planet, matahari," ujarnya.

Pada masa lalu, susunan planet diperkirakan akan menarik matahari hingga terbagi dua. Pada kenyataannya tidak terjadi.

"Prediksi saya terhadap efek supermoon hanya sebatas ombak pasang saja," ujar Reneke seperti dikutip dari Wvoutpost.com.

Sumber  :  http://teknologi.vivanews.com

kepiting Raksasa Dari Tasmania

Selasa, 01 Mei 2012
Posted by Asep Muharam

Kepiting raksasa bernama Claude ditangkap dilepas Pantai Tasmania, Australia, bulan lalu oleh seorang nelayan. Kepiting raksasa itu memiliki berat 6,8 kilogram (kg) dan lebar 38,1 centimeter (cm).



Namun kepiting langka ini tidak akan dikonsumsi di sebuah restoran. Kepiting itu lalu dijual kepada pihak akuarium di Inggris seharga 3.000 poundstering atau sekira Rp36 juta (Rp12.173 per pounsterling).

Setelah menempuh penerbangan selama 29 jam dari Australia, Claude akan dipamerkan di pusat Sea Life di Weymouth, Dorset, Inggris. Datangnya Claude menyebabkan dua kepiting lainnya yang menjadi penghuni akuarium itu, akan dipindahkan ke akuarium di Birmingham dan Berlin.



Claude adalah kepiting yang berukuran 100 kali lebih besar dari kepiting normal yang ada di pantai Inggris. Ternyata usia Claude saat ini masih remaja, sehingga kemungkinan besar tubuhnya masih bisa tumbuh dua kali lipat dari berat badannya sekarang.


"Ini makhluk yang mengesankan. Claude seharusnya butuh waktu beberapa hari untuk beradaptasi, tapi sekarang dia sedang menikmati makanannya dan tampaknya tidak ada yang lebih buruk dari tempat hidupnya yang baru ini di akuarium," ujar ahli biologi kelautan untuk Sea Life Rob Hicks.

Sementara menurut ahli kelautan Jemma Battrick, kepiting tidak makan dalam porsi banyak meskipun bisa menjadi spesies terbesar. Di akuarium ini, Claude hanya akan diberi makan udang dan cumi-cumi.

Sumber  :  http://forum.vivanews.com/aneh-dan-lucu/346638-kepiting-raksasa-dari-tasmania.html
Welcome to My Blog

Popular Post

Delete this widget from your Dashboard and add your own words. This is just an example!

Páginas vistas en total

Archive

free counters
Blinkie Text Generator at TextSpace.net
Blinkie Text Generator at TextSpace.net

Followers

Followers

About Me

Foto Saya
Asep Muharam
Lihat profil lengkapku

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

Blinkie Text Generator at TextSpace.net
free counters
Blinkie Text Generator at TextSpace.net
Blinkie Text Generator at TextSpace.net

Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

- Copyright © Batavia 1943 -Robotic Notes- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -